Medically Reviewed by: dr Aditya Nugroho - Health Communicator Kalbe Nutritionals
Ringkasan
Stres adalah kondisi saat seseorang merasa tertekan atau cemas akibat situasi tertentu.
Saat stres, tubuh melepaskan hormon seperti kortisol dan adrenalin yang dapat meningkatkan kadar gula darah.
Pada kondisi ini, sebagian orang mungkin mengalami gejala seperti lebih sering haus, sering buang air kecil, tubuh terasa lelah, sulit fokus, atau gangguan tidur.
Mengelola stres dengan baik dapat membantu menjaga kadar gula darah lebih stabil dan mendukung kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Banyak orang mengira kenaikan gula darah hanya disebabkan oleh makanan manis atau pola makan yang tidak sehat. Padahal, kondisi emosional seperti stres juga dapat memengaruhi kadar gula darah dalam tubuh.
Saat seseorang mengalami stres, tubuh akan memunculkan respons alami yang dapat menyebabkan peningkatan kadar gula darah.
Oleh karena itu, mengelola stres menjadi hal penting untuk membantu menjaga kestabilan gula darah, terutama pada orang dengan risiko atau yang sudah mengalami diabetes.
BACA JUGA: Faktor Risiko Diabetes: Apa Saja yang Harus Diketahui?
Saat seseorang mengalami stres, sistem saraf simpatik dalam tubuh akan aktif dengan cepat yang membuat tubuh melepaskan hormon norepinefrin dan epinefrin (adrenalin) dari kelenjar adrenal ke dalam aliran darah.
Hormon-hormon tersebut bekerja dan memicu respons cepat untuk membantu tubuh menghadapi situasi yang dianggap mengancam atau menegangkan. Akibatnya, tubuh mengalami beberapa perubahan, seperti detak jantung menjadi lebih cepat serta melepaskan lebih banyak glukosa ke dalam darah sebagai sumber energi.
Semua respons ini sebenarnya merupakan mekanisme alami tubuh yang normal untuk membantu seseorang bertahan dan bereaksi cepat saat menghadapi tekanan.
Saat stres, tubuh akan memberikan respons alami “fight or flight” yang memicu pelepasan glukosa ke dalam aliran darah sebagai sumber energi. Dalam kondisi normal, respons ini dapat menurunkan nafsu makan.
Namun pada sebagian orang, stres justru membuat mereka makan lebih banyak, terutama comfort food yaitu makanan yang dikonsumsi untuk memberikan rasa nyaman secara emosional, yang umumnya berupa makanan tinggi kalori, gula, dan lemak. Penelitian menemukan bahwa kebiasaan makan akibat stres berhubungan dengan peningkatan kadar gula darah.
Selain itu, pada studi juga ditemukan adanya penumpukan lemak di area perut. Artinya, kebiasaan makan berlebihan saat stres dapat menyebabkan penumpukan lemak di perut, yang kemudian meningkatkan risiko gangguan gula darah, diabetes, dan kesehatan metabolik tubuh secara keseluruhan.
BACA JUGA: Work-Life Balance, Kunci Jaga Kesehatan Metabolisme di Tengah Kesibukan
Saat sedang banyak pikiran atau berada dalam tekanan, tubuh tidak hanya bereaksi secara emosional, tetapi juga secara fisik, salah satunya melalui peningkatan kadar gula darah. Pada sebagian orang, terutama yang memiliki gangguan pengaturan gula darah, kondisi ini dapat disertai gejala seperti rasa haus berlebihan, sering buang air kecil, mudah lelah, sakit kepala, dan sulit berkonsentrasi.
Jika peningkatan gula darah terjadi terus-menerus, kondisi ini dapat mengganggu kesehatan metabolik dan meningkatkan risiko diabetes.

Image: magnific
Stres merupakan bagian normal dalam kehidupan sehari-hari. Namun, jika tidak dikelola dengan baik, stres dapat berdampak pada kesehatan tubuh, termasuk memengaruhi kadar gula darah.
Oleh karena itu, penting untuk mengelola stres dengan baik agar kadar gula darah tetap lebih stabil dan kesehatan tubuh tetap terjaga. Berikut beberapa cara sederhana yang dapat dilakukan:
Saat sedang stres, tidur sering kali menjadi kurang nyenyak atau lebih sulit. Padahal, kualitas dan durasi tidur yang kurang baik dapat memengaruhi kontrol gula darah dan kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Orang dewasa dianjurkan untuk tidur dengan durasi 7-9 jam setiap malam untuk membantu menjaga kondisi tubuh tetap optimal. Penelitian juga menunjukkan bahwa kebiasaan kurang tidur maupun tidur terlalu lama berhubungan dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2.
Oleh sebab itu, usahakan untuk menjaga pola tidur yang teratur dengan durasi yang cukup agar tubuh dapat beristirahat dengan baik sekaligus membantu menjaga kadar gula darah lebih stabil.
BACA JUGA: Apa Hubungan Kualitas Tidur Buruk dengan Gula Darah?
Olahraga ringan seperti yoga dapat membantu tubuh menjadi lebih rileks sekaligus membantu menjaga kadar gula darah tetap lebih stabil. Aktivitas fisik juga membantu tubuh menggunakan glukosa sebagai sumber energi sehingga kadar gula darah lebih terkontrol.
Penelitian yang dipublikasikan dalam International Journal of Nursing Information (IJNI) tahun 2023 menunjukkan bahwa yoga dapat membantu menurunkan kadar gula darah pada pasien diabetes tipe 2. Oleh karena itu, yoga dapat menjadi salah satu pilihan aktivitas fisik yang membantu menjaga kesehatan tubuh sekaligus membantu mengelola stres.
Stres dan kebiasaan makan sehari-hari saling memengaruhi dan berdampak pada kesehatan mental maupun fisik. Artinya, bukan hanya jenis makanan yang dikonsumsi, tetapi cara makan juga dapat memengaruhi suasana hati dan kondisi tubuh.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nutrients tahun 2025 menunjukkan bahwa pola makan sehat dan hubungan yang lebih baik dengan makanan dapat membantu mendukung kesehatan mental serta membantu tubuh menghadapi stres dengan lebih baik.
Beberapa cara yang dapat dilakukan di antaranya:
mindful eating atau makan dengan sadar, misalnya makan secara perlahan, fokus pada makanan, dan mengenali rasa lapar maupun kenyang tubuh
intuitive eating atau makan dengan mengikuti kebutuhan tubuh, bukan sekadar makan karena stres atau emosi
mengonsumsi makanan alami yang kaya serat dan nutrisi, seperti sayur, buah, kacang-kacangan, dan biji-bijian
membatasi konsumsi makanan ultra-proses, yaitu makanan yang telah melalui banyak tahapan pengolahan dan umumnya tinggi gula, garam, atau lemak tambahan, seperti minuman manis kemasan, mi instan, keripik, makanan cepat saji, dan camilan kemasan
Karena saat stres sebagian orang cenderung makan berlebihan atau memilih makanan tinggi gula dan lemak, menjaga pola makan seimbang juga penting untuk membantu menjaga kesehatan metabolik dan kadar gula darah tetap lebih terkontrol.
Menjaga komunikasi dengan keluarga dan teman dapat membantu mengurangi stres karena Anda merasa didukung dan tidak menghadapi masalah sendirian. Dukungan emosional dari orang terdekat juga dapat membantu membuat pikiran terasa lebih tenang.
Jika stres terasa berat atau berlangsung lama, Anda dapat mempertimbangkan untuk berkonsultasi dengan psikolog. Bantuan profesional dapat membantu Anda memahami penyebab stres sekaligus menemukan cara penanganan yang sesuai agar kondisi tidak semakin mengganggu aktivitas sehari-hari.

Image: magnific
Tidak jarang seseorang memilih makanan manis atau tinggi gula sebagai “pelarian’ saat stres dengan alasan dapat menjadi mood booster. Padahal, kebiasaan ini dapat memicu lonjakan gula darah dalam tubuh.
Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Appetite, saat mengalami stres banyak orang cenderung mengonsumsi comfort food atau makanan tinggi gula dan kalori sebagai pelampiasan emosi, bukan karena rasa lapar yang sebenarnya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan makan saat stres berhubungan dengan:
kontrol gula darah yang lebih buruk
kadar gula darah yang lebih tinggi
resistensi insulin
peningkatan risiko prediabetes dan diabetes
Jika tidak dikendalikan, kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi gula saat stres dapat menyebabkan kadar gula darah lebih mudah meningkat dan berdampak buruk pada kesehatan metabolik.
Memiliki jadwal harian yang pasti, dapat membantu Anda menggunakan waktu dengan lebih efisien dan rutinitas pun lebih terkontrol. Dengan jadwal yang konsisten, Anda juga lebih mudah menyeimbangkan antara kebutuhan wajib dan waktu istirahat. Misalnya, menetapkan waktu makan yang teratur membantu menjaga energi tubuh tetap stabil, sementara waktu untuk berolahraga dapat membantu tubuh melepaskan ketegangan dan memperbaiki suasana hati.
Saat sedang sibuk, kelelahan, atau berada di bawah tekanan, menjaga pola makan sehat secara konsisten sering kali menjadi tantangan. Akibatnya, waktu makan sering terlewat atau justru memilih makanan praktis yang tinggi gula sehingga dapat memicu lonjakan gula darah.
Oleh karena itu, penting untuk memilih asupan bernutrisi yang praktis dikonsumsi dengan kandungan gizi lengkap dan seimbang untuk membantu memenuhi kebutuhan tubuh setiap hari.

Sebagai pelengkap pola hidup sehat, Anda dapat mengonsumsi Diabetasol Milk yang diformulasikan dengan nutrisi lengkap dan memiliki indeks glikemik rendah untuk membantu menjaga gula darah tetap lebih stabil.
Diabetasol Milk diperkaya dengan Vita Digest yang membantu mengurangi terjadinya lonjakan gula darah. Selain praktis dikonsumsi, Diabetasol Milk juga dapat membantu memenuhi kebutuhan nutrisi harian, terutama bagi Anda yang memiliki aktivitas padat dan tidak selalu sempat menyiapkan makanan sehat.
Beberapa keunggulan Diabetasol Milk yang dapat membantu memenuhi kebutuhan harian dan mendukung pola hidup sehat antara lain:
Isomaltulosa, karbohidrat lepas lambat yang membantu menjaga kadar gula darah tetap lebih stabil dan memberi rasa kenyang lebih lama. Kandungan ini juga mendukung Diabetasol Milk sebagai minuman dengan indeks glikemik rendah (GI = 44).
Vitamin A, C, dan E serta zinc untuk membantu menjaga daya tahan tubuh
Sumber serat untuk mendukung kesehatan pencernaan
Protein whey berkualitas tinggi yang lebih mudah dicerna tubuh
Rendah laktosa
Tanpa penambahan gula pasir
Bebas gluten
Jaga kadar gula darah tetap lebih stabil dengan pola makan seimbang, manajemen stres yang baik, dan dukungan nutrisi yang tepat. Why Not? Kan Ada DIA.
Ya. Saat stres, tubuh melepaskan hormon seperti kortisol dan adrenalin yang dapat memicu pelepasan glukosa ke aliran darah sehingga kadar gula darah dapat meningkat.
Saat mengalami stres, tubuh menganggap dirinya sedang menghadapi situasi yang membutuhkan energi lebih banyak. Karena itu, tubuh meningkatkan produksi gula darah agar tersedia energi yang cukup untuk menghadapi kondisi tersebut.
Tidur cukup, rutin berolahraga, mengatur pola makan, melakukan relaksasi, dan mengelola emosi dengan baik dapat membantu menjaga gula darah tetap lebih stabil.
Memiliki rutinitas harian, tidur cukup, rutin berolahraga, mengatur pola makan, dan tetap terhubung dengan teman atau kerabat dapat membantu menjaga kadar gula darah tetap lebih stabil.
Berbagi cerita dengan keluarga, teman, atau mencari bantuan dari tenaga profesional seperti psikolog dapat membantu mengurangi tekanan emosional dibandingkan memendamnya sendiri.
Referensi
Chu, B., Marwaha, K., Sanvictores, T., et al. (2026). Physiology, stress reaction. In StatPearls. StatPearls Publishing. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK541120/
Tsenkova, V., Boylan, J. M., & Ryff, C. (2013). Stress eating and health. Findings from MIDUS, a national study of US adults. Appetite, 69, 151–155. https://doi.org/10.1016/j.appet.2013.05.020
Mohd, S., Kumar, L. L., Harish, V., Kumar, R., Chaudhary, A., & Sharma, V. (2025). Diabetes mellitus: Complications, emerging therapeutic targets, and evolving treatment approaches. Obesity Medicine, 58, 100652. https://doi.org/10.1016/j.obmed.2025.100652
Losser, MR., Damoisel, C. & Payen, D. Bench-to-bedside review: Glucose and stress conditions in the intensive care unit. Crit Care 14, 231 (2010). https://doi.org/10.1186/cc9100
Darraj A. (2023). The Link Between Sleeping and Type 2 Diabetes: A Systematic Review. Cureus, 15(11), e48228. https://doi.org/10.7759/cureus.48228
Sriwahyuni, S., Darmawan, S., Nurdin, S., Allo, O. A., & Hasifah, H. (2023). The effectiveness of yoga exercise to reduce blood sugar levels in diabetes mellitus sufferers. International Journal of Nursing Information, 2(2), 13–21. https://doi.org/10.58418/ijni.v2i2.44
Warren, A., & Frame, L. A. (2025). Restoring a Healthy Relationship with Food by Decoupling Stress and Eating: A Translational Review of Nutrition and Mental Health. Nutrients, 17(15), 2466. https://doi.org/10.3390/nu17152466
https://www.who.int/news-room/questions-and-answers/item/stress
Clemente-Suárez, V. J., Mielgo-Ayuso, J., Martín-Rodríguez, A., Ramos-Campo, D. J., Redondo-Flórez, L., & Tornero-Aguilera, J. F. (2022). The Burden of Carbohydrates in Health and Disease. Nutrients, 14(18), 3809. https://doi.org/10.3390/nu14183809
Tsenkova, V., Boylan, J. M., & Ryff, C. (2013). Stress eating and health. Findings from MIDUS, a national study of US adults. Appetite, 69, 151–155. https://doi.org/10.1016/j.appet.2013.05.020